Menyelami Gorontalo Part 1 : Mengenal Gorontalo

Tok tok tok, Assalamu’alaykum…

Ini blognya udah lama sekali gak ditengok, gak nulis, gak ada aktivitas yak T.T paling-paling buka blog orang lain baca sana-baca sini, komen sana-komen sini tapi blog sendiri gak dirawat huhuhu… *durhaka sama blog sendiri.

Anyway, saya mau mulai belajar nulis lagi, karena merasa hidup ini kurang produktif kalo cuma buka android dan itu pun cuma scroll sana-scroll sini, balas sana-balas sini, gak ada peningkatan kapasitas atau apapun di saat tidak ada kegiatan *huft. Kesel sendiri sih, tapi ya gimana ya, mungkin ada di titik jenuh kali ya hehehe 😀

Nah, berhubung sebentar lagi berakhir masa rantau saya di Gorontalo, saya ingin berbagi sedikit tentang Gorontalo dan pengalaman yang indah-indah di sini, kalo yang buruk dibuang ke laut aja kali yaaa 😉 *ngapain juga diinget hehehe..

Gorontalo, sebuah kabupaten yang *katanya* sangat terpencil, yang karenanya saya dan 4 teman saya yang lain ditempatkan di sini. Nusantara Sehat merupakan program pemerintah melalui Kemenkes yang menugaskan tenaga kesehatan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di daerah 3T di seluruh Indonesia. Mendapatkan Kabupaten Gorontalo sebagai daerah penempatan membuat saya sangat bersyukur meskipun awalnya was-was karena letak geografis yang ektrim dan *katanya* akses yang cukup sulit.

Namun, hal tersebut terpatahkan saat saya bersama teman-teman saya mendarat di Gorontalo. Wow, ternyata di Gorontalo ada mall, katanya terpencil? Iyalah ada mall, kan itu ada di Kota Gorontalo, hihihiiii… Trus, di sini juga ada sinyal telepon, bisa internetan 4G lagi, harga kebutuhan cukup terjangkau, dan kemudahan-kemudahan lainnya. Alhamdulillah, gak parah-parah amat laaaah, masih bisa hidup di sini buktinya ada masyarakatnya hahaha.. 😀

Eh tapi itu di kota ding, bukan di tempat penempatan yang sesungguhnya. Kalo di tempat penempataaan,….

Sebelum kami dilepas di tempat penempatan, kami tinggal di kota sekitar 3 hari untuk pengenalan di Dinas Kesehatan Kabupaten dan Dinas Kesehatan Provinsi, kemudian setelah itu, kami diantar menuju desa dimana kami ditugaskan untuk mengabdi di sana.

Kesan pertama saya menuju tempat penempatan adalah…

IndahIndaaaaah sekali, alhamdulillah, karena sepanjang perjalanan dipenuhi pemandangan laut yang tak terputus. Coba lihat peta ini, Kecamatan Batudaa Pantai berada di pinggir laut, dengan jalanan yang naik turun, tikungan tajam ala daerah pegunungan, dan jalanan yang tidak terlalu lebar. Bahkan awalnya, jalanan menuju desa ini belum teraspal dengan sempurna, rasa-rasa cukup ekstrim dan bikin spot jantung kalo ada kendaraan dari arah berlawanan.

Sinyal. Saat di perjalanan menuju lokasi desa, kami masih bisa hahaha hihihi melalui telpon, bahkan bisa internetan. Tiba-tiba, dunia terasa gelap, batang-batang sinyal itu hilang layaknya tulisan di pasir yang disapu ombak laut. Yah, hilang deh itu sinyal, beneran ini sangat terpencil?

Sapi dan kambing. Ternyata banyak juga ya sapi dan kambing di sini 😀 alias dibiarkan di jalanan hehehe… Mungkin karena saya tidak terbiasa melihat yang demikian jadinya takjub aja sih dan sempat terpikir, kok gak ilang ya? Kalo di kota bisa aja mereka jadi sate hihihiiii.

Punya siapa ini? Ya, punya siapa ini, tai-nya? Yah, di sini masyarakat belum memiliki lahan yang dikhususkan untuk kandang bagi sapi atau kambing mereka, bahkan untuk makan mereka mencari sendiri meskipun itu cuma kardus wkwkwk… Baru kali ini saya melihat sapi makan kardus dari mengais-ngais sampah. Alhasil, ternak yang berkeliaran, berarti tainya juga berkeliaran.

Poki-Poki dan Kangkung. Poki-poki adalah nama sayuran berbentuk silinder agak panjang dan berwarna ungu, apa hayo? Yah, maaf Anda salah hahaha… Poki-poki adalah terong! Awalnya, saya agak merasa lucu karena nama terong di sini adalah poki-poki heheheheeee *ups. Tau gak, ternyata sayuran yang ada di desa cuma ada poki-poki dan kangkung pemirsaaaaah! Bagi orang Jawa yang suka makan sayur, saya merasaaa… alhamdulillah…

Pedas. Asal Anda tau, cabe atau orang Gorontalo menyebutnya “RICA” adalah makanan pokok orang Gorontalo yang disusul dengan tomat, bawang merah, dan bawang putih. Ya, bumbu dapur utama mereka cuma itu, ditambah satu lagi, kemiri. Semua makanan Gorontalo pedas semua bapak-bapak dan ibu-ibu, bisa dibilang 90% lah. Orang Gorontalo tak sanggup menelan makanan yang tidak ada RICA-nya.

Santan. Kalo yang satu ini, sudah menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat yang tinggal di daerah pesisir. Itulah salah satu penyebab sebagian besar masyarakat di sini mengalami hipertensi, karena mereka terlalu sering mengolah makanan dengan santan, terlebih yang kental.

Ikan, Suntun, dan Nike. Desa kami yang sangat dekat dengan laut, nempel malah, membuatnya kaya akan sumber makanan dari laut. Memang, sebagian besar mata pencaharian bapak-bapak di sini adalah nelayan yang kemudian disusul dengan petani kebun bagi yang tinggal di atas gunung. Di sini, hampir setiap hari ada ikan, cukup sering ada suntun (cumi-cumi kecil), dan beberapa kali ada Nike (ikan kecil seperti teri medan berwarna bening) yang merupakan ikan endemik Gorontalo. Semuanya saya sukaaaaa… Yummy!

Nah, itu adalah sekilas sisi dari Gorontalo. Semoga saya bisa istiqomah, gak ada gangguan setan malas sehingga saya bisa nulis cerita panjang untuk selanjutnya, aamiin… 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s