Jangan Pernah Buta

Politik adalah bidang yang paling saya benci, awalnya. Tampilan berita yang membosankan membuat saya lebih memilih nonton sinetron Tersanjung daripada berita jam 7 malam di TVRI kala itu. Tapi, kalau gak salah, dulu setiap stasiun TV menayangkan berita setiap jam 7 malam. Berhubung gak ada pilihan lain, mending ngerjain pekerjaan lain saja, misalnya belajar. Entah, saat kecil suka banget sama yang namanya belajar karena minim kontaminasi. 

Teknologi yang semakin canggih memberikan kemudahan dalam akses informasi. Meskipun saat kuliah akses menonton TV sangat limit karena padatnya aktivitas, kebutuhan akan informasi tetap bisa diupdate melalui android dengan berbagai aplikasi maupun media sosial. Jadi saya cukup melek informasi sejak di kampus, berhubung juga tergabung dalam organisasi layaknya miniatur negara.

Ketika lulus, tepatnya ketika kembali ke rumah, akses informasi melalui TV semakin meningkat. Jika dibandingkan dengan zaman dulu, tampilan berita saat ini lebih fresh. Sehingga bisa dibilang cukup layak untuk ditonton berlama-lama. 

Akses informasi dari berbagai sumber memberikan sudut pandang yang berbeda-beda dari setiap instansi. Terlebih saat ini cukup jarang instansi yang masih independen. Dan itu bener-bener bermanfaat dalam membentuk pola pikir masyarakat. Inilah bahaya politik yang masuk ke industri ini.

Banyaknya sumber informasi memberikan fakta bahwa ada/banyak informasi penting yang tidak ter-expose media dan digantikan dengan berita lain. Mereka menyebutnya pengalihan isu. Tapi, pada industri yang lebih kecil, kadang berita itu tetap dimunculkan meski tetap kalah pamor. 

Di sisi lain, akun media sosial juga dijadikan media untuk berdiskusi tentang suatu berita. Entah untuk menjatuhkan atau mengangkat derajat tokoh yang dijunjungnya. Isinya bisa berupa pujian berlebihan atau cemoohan yang tak selesai-selesai. Bahkan akun palsu dibuat untuk ikut meramaikan. 

Demi jabatan, orang saling perang, tak hanya adu mulut tapi juga adu nyawa. Para pimpinan saling sikut, saling tikung demi istana mewah. Duhai pahlawan, malulah kami, di usia setua ini masih ada rakyat yang kebingungan untuk sekedar sesuap nasi.

Saya percaya, kejayaan suatu negeri tergantung dari pemimpinnya. Jadi, jangan pernah buta memilih pemimpin. Lihatlah track recordnya, gaya bicaranya, tingkahnya, keputusannya, bahkan kalau perlu keluarganya. Jangan pilih yang arogan dan menindas rakyat kecil, suka memecahbelah, mudah marah, keras, dan berkata kotor. 

Ingat, jangan buta, demi rakyat tertindas 🙂

No excuse!

Iklan

8 tanggapan untuk “Jangan Pernah Buta”

  1. Setujuuu, jangan buta. Tapi yang jadi masalah saya, itu saya tau rekam jejak para calon dari media juga, dan kebanyakan media-media yang dominan dan yaaa nggak independen itu tadi. Jadi bingung, gimana cari yang netral. Tapi memang sih, nggak ada apapun yang bener-bener netral

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s