Bersama Wujudkan Bayi Sehat, Ibu Selamat, Indonesia Hebat

sumber gambar: kompasiana.com
sumber gambar: kompasiana.com

Memiliki keturunan adalah harapan setiap keluarga. Bahkan salah satu tujuan berkeluarga adalah melestarikan kehidupan manusia dengan melahirkan anak-anak. Anak-anak bagaikan penyejuk kala hati orang tuanya berduka. Kehadirannya pun harapan bangsa untuk menjadi bagian dari sumber daya manusia yang unggul dan siap memajukan tanah air.

Sungguh ironi ketika data menyebutkan suatu fakta. Ternyata, setiap tiga menit satu anak balita Indonesia meninggal dunia dan setiap jam satu perempuan meninggal dunia ketika melahirkan atau karena sebab-sebab yang berhubungan dengan kehamilan. Peningkatan kesehatan ibu di Indonesia yang merupakan bagian dari Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals/MDGs) kelima, berjalan lambat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi Indonesia di mata ASEAN pun tidak lebih baik dari Myanmar, Vietnam, Filipina, Thailand, dan Malaysia (gambar 1). Namun, Indonesia telah melakukan upaya yang jauh lebih baik dalam menurunkan angka kematian pada bayi dan balita, yang merupakan MDGs keempat.

MDG ibu

MDG anak

Sebagian besar kematian anak di Indonesia terjadi pada masa baru lahir (neonatal). Mungkin sebagian besar dari kita beranggapan bahwa semakin tinggi tingkat ekonomi suatu keluarga, maka status kesehatannya semakin baik dan berujung pada sedikitnya tingkat kematian anak balita dan bayi baru lahir. Namun, sebuah Survei Demografi dan Kesehatan (SDKI 2007) menunjukkan bahwa baik angka kematian balita maupun angka kematian bayi baru lahir telah meningkat pada kuintil kekayaan tertinggi/highest (gambar 2).

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi angka kematian balita dan bayi baru lahir, beserta fakta yang telah saya rangkum dari Kajian UNICEF Indonesia pada tahun 2012, yaitu:

  1. Kemiskinan. Anak-anak dari kelompok keluarga termiskin umumnya memiliki angka kematian balita lebih dari dua kali lipat dari angka kematian balita di kelompok keluarga paling sejahtera.
  2. Geografis. Angka kematian anak di daerah-daerah miskin di pinggiran perkotaan jauh lebih tinggi daripada rata-rata angka kematian anak di perkotaan. Angka kematian balita lebih dari 90 per seribu anak di tiga provinsi di kawasan timur Indonesia.
  3. Pendidikan ibu. Selama kurun waktu 1998-2007, angka kematian bayi pada anak-anak dari ibu yang tidak berpendidikan adalah 73 per seribu kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi pada anak-anak dari ibu yang berpendidikan menengah atau lebih tinggi adalah 24 per seribu kelahiran hidup.
  4. Indonesia mengalami peningkatan feminisasi epidemi HIV/AIDS. Proporsi perempuan di antara kasus-kasus HIV telah meningkat dari 34 persen pada tahun 2008 menjadi 44 persen pada tahun 2011.
  5. Kesenjangan/belum meratanya pelayanan kesehatan. Proporsi persalinan di fasilitas kesehatan masih rendah, yaitu sebesar 55 persen. Sekitar 38 persen perempuan usia reproduktif menyatakan telah mendapatkan dua atau lebih suntikan tetanus toxoid (TT2+) selama kehamilan. Kira-kira 31 persen ibu nifas mendapatkan pelayanan antenatal “tepat waktu.”

Selain kelima faktor dan fakta di atas, ada beberapa perilaku yang tidak tepat dan berkontribusi terhadap kematian anak, yaitu:

  1. Para ibu dan petugas kesehatan masyarakat tidak memiliki pengetahuan tentang penanggulangan atau pengobatan penyakit-penyakit umum anak
  2. Para ibu tidak menyadari pentingnya pemberian ASI
  3. Praktek-praktek sanitasi dan kebersihan yang buruk sangat umum
  4. Praktek pemberian makan bayi dan pelayanan lainnya yang buruk mengakibatkan gizi kurang pada ibu dan anak-anak, yang merupakan penyebab dasar kematian anak

Nah, cukup mencengangkan ya melihat angka-angka yang menunjukkan masih kurangnya tingkat kesehatan di  Indonesia serta perilaku buruk yang justru dapat meningkatkan angka kematian anak. Memang, pemerintah adalah sosok yang berperan penting dalam menangani berbagai masalah dalam kesehatan di negeri ini melalui program-program terpadu. Tapi nyatanya, pemenuhan kebutuhan masyarakat tersebut belum sepenuhnya tertutupi. Kini saatnya, kita sebagai bagian masyarakat juga wajib berperan dalam menyehatkan Indonesia.

Berikut tips-tips ringan yang dapat kita lakukan untuk mengurangi tingkat kematian ibu, balita, dan bayi baru lahir versi saya:

1. Persiapkan Kehamilan Sejak Remaja dan Penuhi Zat Gizi Selama Proses Kehamilan

sumber gambar: www.tren.co.id
sumber gambar: http://www.tren.co.id

Loh, kok persiapan kehamilan sejak remaja? 

Ada yang salah? Tidak, justru ini yang dianjurkan. Hal ini untuk mencegah terjadinya kekurangan zat gizi tertentu yang bersifat irreversible (tidak dapat diperbaiki/kembali). Akibatnya, apabila sejak remaja seorang perempuan mengalami kekurangan zat gizi tertentu, hal ini dapat berdampak pada keturunannya kelak. Sedangkan pada saat hamil, asupan makanan dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi yang bertambah untuk ibu dan pertumbuhan janin.

2. Rutin Memeriksakan Kesehatan

couplemedcheckts
sumber gambar: bundanet.com

Pada saat proses kehamilan, ibu hamil dianjurkan untuk rutin memeriksakan kandungan sehingga segala kejanggalan pada kehamilan dapat terdeteksi lebih awal. Sedangkan untuk pemeriksaan penyakit menular seksual seperti HIV, sifilis, bila perlu gonorhoe dan chlamydia sebaiknya dilakukan sebelum hamil.

3. Melek Informasi Kesehatan

kematian ibu

Sebagai manusia modern, gadget adalah barang yang gak boleh ketinggalan kapan pun dan di mana pun. Bijak dalam menelaah informasi melalui gadget adalah keputusan terbaik. Berbagai informasi kesehatan baik dari pemerintah maupun pihak yang peduli dengan kesehatan masyarakat, kini sudah mulai berkembang di situs-situs berbahasa Indonesia. Gak ada salahnya kalau kita ikut mampir untuk menambah wawasan dari sana. Misalnya, berdasarkan data di atas, salah satu faktor penyebab kematian ibu adalah hipertensi (preeklamsia). Untuk itu, kita dituntut untuk mengetahui lebih dalam bagaimana mencegah hipertensi sehingga tidak terjadi pada saat kehamilan yang berakibat buruk pada keselamatan ibu dan bayi. Informasi lainnya yang dibutuhkan antara lain, pencegahan dan penanganan penyakit infeksi pada anak, pemberian ASI, makanan pendamping ASI (MP-ASI), pentingnya peran sanitasi dan kebersihan untuk kesehatan, dan lainnya.

4. Berbagi informasi

share
sumber gambar: http://www.theodysseyonline.com

Kita pasti tau, tidak setiap orang sadar akan pentingnya informasi kesehatan. Mungkin kita juga seperti itu, dulu. Tapi, tak ada yang terlambat bukan? Di saat kita sudah peduli dengan kesehatan diri sendiri dengan mencari berbagai informasi kesehatan, tak ada salahnya untuk mulai peduli kepada orang lain dengan berbagi informasi. Coba Anda cek grup di Whatsapp, ada berapa grup di sana? Jika Anda punya 10 grup yang masing-masing ada 10 anggota yang berbeda keluarga, berarti Anda berperan dalam menyelamatkan 100 keluarga. Yah, meskipun saya juga yakin tidak semua anggota akan membaca. Setidaknya ada yang membaca dan menyebarkan informasi ke orang lain lagi.

5. Berniat dan Bertekad Untuk Bergaya Hidup Sehat

niat
sumber gambar: ertaufik.wordpress.com

Mengubah perilaku bukanlah hal mudah. Misalnya, Anda adalah perokok yang ingin berubah untuk tidak merokok. Tiga hari pertama Anda sukses tanpa rokok. Tiga hari kedua Anda masih bertahan. Tiga hari ketiga Anda mulai ingin merokok lagi. Di hari kesepuluh Anda mulai menghisap roko. Dalam proses ini, kita sangat membutuhkan dukungan keluarga atau lingkungan.

6. Memanfaatkan Fasilitas Kesehatan

posyandu
sumber gambar: keluargasamawa.com

Seperti yang saya post sebelumnya, saya adalah produk anak dengan ibu yang teredukasi melalui Posyandu. Sejak dalam kandungan dan setelah saya lahir, seperti mendapatkan ASI eksklusif, pemberian ASI selama dua tahun penuh, makanan beragam setiap hari, imunisasi, vitamin, dan fasilitas lain, merupakan hasil edukasi dari Posyandu yang disediakan oleh pemerintah. Mungkin memang, tidak setiap daerah seberuntung daerah saya yang cukup baik mengenai fasilitas kesehatan dari pemerintah. Namun, tak jarang di daerah yang memiliki fasilitas kesehatan yang juga baik, tingkat kesadaran masyarakatnya masih sangat kurang untuk sekedar membawa anak-anaknya ke Posyandu.

7. Mendukung Kesehatan Ibu dan Anak

Family at sunset
sumber gambar: http://www.hipwee.com

Melihat sanak saudara yang hamil, melahirkan, dan mengurus anak membuat saya berkesimpulan bahwa hal-hal itu tidaklah mudah. Segala bentuk dukungan dari lingkungan, terutama keluarga sangat diperlukan untuk terwujudnya tujuan yang diinginkan.

Nah, mari kita wujudkan Indonesia yang semakin hebat melalui pencegahan kematian ibu, balita, dan bayi baru lahir 🙂

References: UNICEF, Kemenkes

Iklan

Satu tanggapan untuk “Bersama Wujudkan Bayi Sehat, Ibu Selamat, Indonesia Hebat”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s