To Have a Courage

simon_underwater_1
sumber gambar: ufiunik.blogspot.com

Memiliki jiwa keberanian yang tinggi adalah sebuah aset penting, menurut saya. Dengan keberanian, seseorang mampu menyuarakan apa yang ada di hati dan pikirannya. Seperti seorang bayi atau anak kecil yang sebelum mendapatkan pengaruh negatif dari lingkungannya, ia akan terus meng-explore apa saja yang ada pada dirinya dan sekitarnya. Bahkan ia akan mencoba hal-hal yang akan membahayakannya. Contohnya, seorang bayi yang berani memegang ular. Tanpa tau sebelumnya kalau ular itu berbahaya untuknya, ia akan mencoba untuk memegang atau memeluk ular itu. Ketika si ular memberikan respon kepada bayi, sang bayi akan menentukan keputusannya apakah ular itu berbahaya untuk dirinya atau tidak. Dengan bertambahnya usia, pengetahuan, dan pengaruh lingkungan yang kurang mendukung, jiwa berani itu akan berkurang sedikit demi sedikit.

Hal ini sepertinya terjadi dengan saya. Pada saat saya masih kecil, saya tergolong anak yang cukup berani menurut saya hehehe. Saya sudah bisa lancar ngontel sepeda roda dua sejak sebelum masuk usia TK. Lalu, bisa nyetir motor sejak kelas 2 SMP, itu pun sebenarnya belum diizinkan, tapi saya merengek ke orang tua untuk mengajarinya. Dan akhirnya, saat SMA saya mengendarai motor setiap ke sekolah, meskipun tanpa SIM -oops-. Dan kecepatan saat mengendarai motor cukup kencang kala itu, 70 km/jam dalam kondisi normal. Entah ini karena berani atau kelabilan ABG. Saya dulu juga mengikuti kegiatan ekskul pecinta alam dengan aktivitas yang cukup ekstrim, meskipun saya gak berani-berani amat, apalagi dengan ketinggian.

Selain itu, sejak kecil saya terlihat seperti anak koleris yang beberapa kali mau menang sendiri dan memiliki jiwa kompetisi yang tinggi. Ikut perlombaan ini itu meskipun gak menang dan mau mencoba ini itu meskipun hasilnya nol karena gak ada satu pun yang fokus. Ya, mungkin itu yang membuat saya tak fokus, saya belum memahami potensi diri. Lalu, lambat laun koleris itu memudar dan berganti plegmatis. Dua sisi yang sangat bertentangan ada dalam diri saya. Yang saya rasakan saat ini adalah jiwa saya koleris tapi penampakan plegmatis. Saya juga merasa ada sesuatu atau keadaan yang membatasi saya untuk ber-explore hingga akhirnya saya mengurungkan niat untuk melanjutkan apa yang saya pikirkan sebelumnya.

Menguras Pikiran

Dua sisi yang berbeda dalam satu raga itu telah menguras pikiran saya. Selalu ada pertentangan dalam diri. Di satu sisi saya bersemangat untuk berkompetisi, di sisi jiwa saya yang lain menahan saya. Saya kurang tau pasti, sejak kapan hal ini terjadi. Hingga akhirnya saya hanya bisa menyesali kepergian waktu yang berlalu tanpa hasil dan ragu-ragu telah menjadi teman setia saya. Ah, ragu-ragu kan datangnya dari setan!

Need Treatments

Saya merasa penyakit ini harus segera diatasi. Kalau tidak, saya akan terpenjara di tubuh sendiri. Mungkin hal pertama yang ingin saya lakukan saat ini adalah dengan menulis dan mengikuti berbagai lomba menulis. Dengan begitu akan meningkatkan keberanian dan rasa percaya diri, saya pikir. Jadi, kalau saya sering ikutan lomba menulis, entah tulisan itu nyambung-gak nyambung, atau bahkan susunan katanya susah dipahami, itu adalah bagian dari treatment ini hehehe. Karena menulis membuat saya bebas berpikir dan berekspresi.

Treatment selanjutnya yang akan saya lakukan adalah dengan berenang. Siapa sih yang gak takut tenggelam? Tapi, sejauh ini saya mulai bisa menguasai ketakutan di dalam air, lebih baik lah kalau dibandingkan dengan dulu. Terlebih saat ini ada kacamata berenang baru yang dibeli dari hadiah voucher lomba nulis sebelumnya hehehe. Dengan kacamata ini, saya bisa melihat kedalaman kolam dengan lebih jelas. Tanpa kacamata, saya merasa takut membuka mata karena akan panik dan tidak bisa mengatur nafas.

Langkah selanjutnya yang ingin saya lakukan adalah berkumpul dengan orang-orang yang positif. Memang saya harus selektif untuk memilih teman, bukan berarti mengotak-kotakkan seseorang. Tapi, ini untuk meminimalisir pengaruh lingkungan yang buruk ke dalam alam bawah sadar saya. Saya cenderung menghindari orang-orang yang suka bergosip hihihi. Selain dosa besar, saya juga merasa risih dan waktu terbuang sia-sia hanya untuk membicarakan orang lain. Cukup sulit juga menemukan orang-orang yang positif sekaligus kompetitif dan sportif, karena orang-orang seperti ini cukup jarang. Semoga saya segera menemukan yang sesuai.

Bertemu dengan lingkungan yang kurang mendukung adalah sebuah takdir. Jika itu yang terjadi, saya akan mencoba menutup telinga rapat-rapat, tidak memasukkannya ke dalam hati, dan melupakannya. Mungkin itu adalah tameng terbaik pertahanan diri hehehe 😀 Karena biasanya ketakutan itu muncul dari banyaknya cibiran lingkungan yang merendahkan dan menganggap remeh. Cibiran-cibiran itu bisa saja membuat takut seseorang untuk melangkah di trotoar yang aman.

Think positive. Mungkin ini adalah kunci dari segala ketakutan. Cukup membaca laa haula wa laa quwwata illaa billah, maka saya akan menjadi berani. Karena sesungguhnya segala kekuatan itu datangnya dari Allah kan 😉 Memang saya lemah, dengan memintanya kepada Allah, saya akan menjadi lebih berani dan lebih kuat. Terus meyakinkan diri bahwa dalam lingkungan sesulit apapun, selalu ada pertolongan. Satu kesulitan selalu diikuti dengan dua kemudahan (QS Al Insyiroh).

Memang, saat ini saya merasa masih berada pada zona nyaman. Tempat di mana saya tidak merasa deg-degan. Jadi, katanya saya harus keluar dari zona nyaman. Mencoba hal-hal baru yang tak terlintas atau bahkan dulu sangat saya hindari, seperti mendaftar ke rumah sakit hihihi 😀

Tidak menghindar adalah cara tepat menghadapi rasa takut. Karena menurut tulisan ini, menghindari rasa takut justru akan membuat rasa takut itu semakin kuat. Wah, saya baru tau!

Hmm, apa lagi ya? Mungkin ada yang pernah mengalaminya juga?

Iklan

11 tanggapan untuk “To Have a Courage”

  1. Setujuuu jangan menghindar, jagoan kan nggak pernah kabur hehe

    Duh saya ngga bisa berenang meskipun sangat ingin :”)

      1. Oooh.. coba cari pelatih/temen yg jago renang.. minimal bisa ngambang 😉 kalo saya yg pertama kali bisa malah gaya punggung dl, krn blm bisa ngatur nafas hehe.. modalnya yakin sih… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s