Surat Untuk Masa Depanku

surat
sumber gambar: salimunj.com

Assalamu’alaykum 🙂

Dear my future husband,

Bagaimana kabarmu di sana? Ku harap kau baik-baik saja seperti aku sekarang ini. Taukah, begitu banyak pertanyaan yang terlintas di otakku tentangmu akhir-akhir ini. Tapi aku tak bisa mengejanya satu-persatu karena terlalu berjubel hingga aku pun tak mampu melerainya. Semoga surat diam-diamku ini bisa cukup melampiaskan pertanyaan-pertanyaan itu, yang entah akan kau jawab kapan. Setidaknya aku berharap kau membacanya, meskipun tak pernah kukirimkan tepat ke alamatmu. Kalau kau tak membacanya juga tak apa, aku akan menunjukkannya untukmu kalau aku pernah bersurat denganmu. Aku akan membacakannya saat ada fotoku di buku nikahmu, begitu juga sebaliknya.

Pertanyaan pertamaku tentangmu adalah siapa kamu sebenarnya? Apakah kamu seorang ahli gizi sepertiku? Atau kamu dokter? Atau guru, dosen, pegawai kantoran, penulis, pengusaha? Siapa kamu sebenarnya? Tapi, aku tak ambil pusing apa profesimu, kok. Begitu juga orang tuaku. Aku hanya ingin tau tentangmu lebih dalam dari sekedar profesi. Orang tuaku akan melihat akhlak dan agamamu. Mereka tak kan rela melepasku, anak bungsu kesayangannya, ke tangan orang yang salah.

Pertanyaan keduaku, di mana kamu tinggal? Apakah kau tinggal di dekat rumahku? Apakah kau teman kuliahku? Atau kau sedang studi di luar negeri? Kau tinggal di tempat yang sama sekali tak pernah kusinggahi? Apakah tempat itu terpencil? Apakah kau tinggal dan bekerja di tempat terpencil itu? Ah, banyak sekali pertanyaanku tentangmu… Di mana pun kau tinggal, sejauh apa pun jarak kita saat ini, kita pasti memandang langit yang sama, bulan dan matahari yang sama. Jika kau merindukan kehadiranku, pandanglah langit dan berdo’a kepada Sang Pencipta, seperti do’a Nabi Adam dan Hawa, agar kita bisa dipertemukan seperti mereka kelak.

Pertanyaan ketigaku tentang bagaimana pertama kali kita bertemu nanti? Terlalu banyak menonton drama membuatku terlalu tinggi mengimajinasikan tentangmu, yang aku sendiri masih belum tau tentangmu. Apakah kita akan bertemu di rumah sakit? Atau di perusahaan? Di jalan, kereta, atau di masjid? Apapun itu, yang jelas kau akan lebih sering bertemu orang tuaku nantinya daripada aku. Kau akan lebih tau tentangku dengan lebih lama bercengkerama dengan mereka yang telah merawat dan membersamaiku selama 24 tahun lebih. Dan aku hanya bisa tersipu di balik tirai di sudut kamarku, karena rasa maluku lebih tinggi dari rasa ingin bertemu denganmu.

Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan di kepalaku tentangmu. Pertanyaanku selanjutnya, dan ini yang lebih penting…. akan aku sampaikan saat tepat nanti. Saat di mana aku dan kamu dipertemukan melalui proses bernama ta’aruf, seperti di Ayat-Ayat Cinta. Sebelum pertemuan itu terjadi, kuharap kau menjaga dirimu baik-baik. Tundukkanlah pandanganmu, dengan begitu kau akan lebih tenang. Terus tingkatkan semangat untuk menuntut ilmu, untuk bekal kita nanti. Jagalah komunikasi yang baik antara kamu, Tuhanmu, dan orang-orang di sekelilingmu agar jalan kita lebih mudah. Jagalah kesehatanmu, karena itu adalah aset terbesarmu untuk menjalankan aktivitas dan ibadahmu, hingga pertemuan suci nanti.

Ok, mungkin cukup sampai di sini perbincangan singkat satu arah antara aku dan kamu. Aku memang tak terlalu romantis hingga saat ini. Bisa jadi hal terromantis yang bisa kulakukan nanti adalah melayanimu sepenuh hati, memberimu makanan bergizi, tak membiarkanmu kurus atau gemuk hingga mengidap penyakit degeneratif, membawakanmu bekal makanan sehat tiap hari, melahirkan dan merawat anak-anak hingga dewasa, mendidik mereka, dan lainnya yang biasa dilakukan ibu-ibu pada umumnya.

Ingat pesanku di atas ya, karena aku pun tak tau bagaimana menyampaikannya kecuali dengan surat ini. Jangan terlalu lama berkelana, atau kau tega membuatku terus bertanya-tanya. Jaga dirimu dan aku akan menjaga diriku, karena laki-laki yang baik-baik hanya untuk perempuan yang baik-baik kan 😉

From the deepest heart,
Your future wife

you-make-may-world-so-colorfull-thank-you

Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway 12th Wedding Anniversary : Letter to My Husband/Wife, My Future Husband/Wife

Iklan

14 tanggapan untuk “Surat Untuk Masa Depanku”

  1. So sweet sekali… ini tulisan kedua yang aku baca karena ikutan give away a letter for future husband/wife…. dan keduanya sama2 bikin baper… hahah… suka kalimat yang kurang lbh kayak gini ‘jangan lama-lama berkelana…. atau kau lbh suka melihat aku merana’. Aku tunggu undangannya ya ki… segera amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s