Pertanyaan Mengusik

Dia memutuskan untuk duduk di meja belajarnya. Meskipun meja usang itu sudah tidak digunakan untuk belajar lagi, tapi dia tetap menyebutnya meja belajar. Dia mulai mengambil pulpen dan note  kecil di meja.

Ingin kumulai coret-coret malam ini. Tentang apa yang harus aku lakukan.

Keadaan akhir-akhir ini telah berhasil mengusiknya. Benar-benar mengusiknya. Telah berhasil membuatnya terus berteriak “Aaarrgh!” meskipun hanya di dalam hati.

Kurang lebih setahun lalu dia wisuda. Selama itu pula dia belum menentukan masa depan. Masa depan cemerlang masih dalam angan.

Apa yang harus aku lakukan? Mengapa aku seperti ini? 

Ya, pertanyaan itu terus mengusik dan membuat tidurnya tidak nyenyak. Yah, dia tau meskipun dia bukan lulusan terbaik tapi setidaknya dia punya predikat cumlaude. Atau, meskipun dia tak memiliki prestasi, setidaknya dia berpengalaman di organisasi. Ah, tapi sepertinya itu tidak membuahkan hasil, karena sudah sekitar setahun dia tidak melakukan apapun. Banyak kemampuannya menurun drastis dan berat badannya terus bertambah karenanya.

Sebenarnya, dia tak peduli apa kata orang. Yang dia pedulikan hanyalah orang tua yang telah membesarkannya.

Apa yang harus aku lakukan untuk mereka? Tidak ada yang bisa kuberikan hingga saat ini.

Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengusik, hingga akhirnya dia tertidur di meja belajar.

***

“Aduh, leherku sakit. Oh, aku tertidur. Masih jam 11,” akhirnya dia terbangun karena salah posisi tidur.

Dia meregangkan badannya yang berasa tidak enak karena salah posisi tidur, lalu memutuskan melanjutkan menulis di note kecil yang ternyata sedari tadi masih kosong, belum tercoret sedikit pun. Dia masih terlalu sibuk dibingungkan dengan “harus menulis apa?

image

“Hhhh… akhirnyaaa,” katanya di akhir malam itu, cukup puas.

Iklan

6 tanggapan untuk “Pertanyaan Mengusik”

  1. kikiii! i feel that.. aku sangat pernah berada di posisi itu. Dan yang kulakukan cuma satu: minta yang banyak sama Allah. Tekadku, pokoknya aku nggak mau ngeluarin ijazah. Keluar kampus, ijazah masuk lemari, kunci rapat. Aku ingin benar-benar bertaruh dengan zaman. Apa benar aku bisa tahan banting dengan arus hidup yang gila-gilaan kejamnya, bermodalkan skill yang kupunya. Aku tau, kamu pasti bisa. Kamu punya apa yang nggak kupunya, dan itu emas!. Semoga berkah usahamu dalam hal apapun, ki

    1. Aamiin 🙂 makasih sekar… btw ini cuma skedar tulisan sekar, bukan ttg aku wkwkwk… mungkin keliatan kayak aku ya hehehehe… pengen bikin kayak drama korea gt haha, tp msh blm bs ekspresif kalo dibuat tulisan, imajinasinya tinggi tp bingung menuangkan dlm tulisan hoho..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s