Menapaki Anak Tangga Pertama: Sebuah Keputusan

anak tangga

Ternyata udah lama banget gak buka dan nulis di blog ini. Pertama masuk, ‘lho, kok tampilannya beda!’ Dan kegaptekan terulang lagi hehehe 😀

Jarang-jarang mau nulis tentang diri sendiri, bercerita tentang pribadi. Biasanya sih anti, tapi untuk saat ini mau nulis ini aja. Biar suatu saat nanti saya yang lebih dewasa (read: tuwa), saya akan berkata ‘apa-apaan ini, alay banget saya djaman dulu.’ Kurang lebih seperti itu 🙂

Ramadhan

Bermula dari Ramadhan, gara-gara Ramadhan. Ramadhan telah mengubah segalanya, mengubah pikiranku, dan akhirnya menentukan keputusan itu. Ya, bermula dari Ramadhan dan keinginan untuk fokus padanya.

Keluar dari Tempat Kerja

Sebelumnya, saya adalah seorang pegawai (cie, yang dulunya anti sama yang namanya jadi pegawai), kerjaan di depan laptop dan smartphone, terima orderan, angkat telpon dan nelponin orang. Guest it! Ya, saya adalah CS order sebuah produk pakaian anak.

Bermula dari permintaan orang tua untuk ‘hidup mandiri’. Ya, saat itu saya masih mengandalkan ‘kiriman’ orang tua, berdalih ingin S2 dan persiapan tralala trililinya. Sejauh itu, apa yang saya usahakan tidak membawakan hasil, saya belum masuk S2 dengan beasiswa dan masih menggantungkan kiriman orang tua untuk sekedar makan. Saat itu, sudah memulai ‘berdagang’, akan tetapi belum menunjukkan hasil signifikan dan ‘menghasilkan’ untuk sekedar makan. Akhirnya orang tua, tepatnya ibu yang saat itu menelpon, mendeklarasikan mulai bulan selanjutnya ‘tidak akan mengirimkan secuil uang lagi.’

JEGLEEER! Berasa tertampar, tersambar petir. Mata memerah, pipi dibasahi air mata, tenggorokan tersekat menahan tangis. Ya, gengsi dikitlah nangis di depan ortu, meskipun by phone.

Terdiam, speechless, gak tau mau jawab apa saat itu. Yang jelas pasrah dan gak pengen ketemu siapa pun.

Mungkin sebagian orang bilang ‘alay, gue aja dari usia lima taun udah nyari duit sendiri!’ Ya ya ya… setiap orang punya background masing-masing dan gak bisa disamakan atau dibandingkan.

Lalu, di sambungan telpon itu, ibu bertanya tentang dagangan yang sudah pernah diusahakan, “Gimana dagangannya, ndhuk?” Dengan tenggorokan yang masih tersekat, saat itu cuma menjawab sekenanya. Kemudian, ibu mencoba menawarkan bantuan untuk tambahan modal dagangan, sontak saya menolaknya hehehe, gengsi mulai muncul ting tong, “Gak usah, nyari sendiri aja.” Perlu dibold, ‘nyari sendiri aja.’ Entah apa yang dipikirkan saat itu, antara kecewa, pupus harapan, gengsi dan alay.

Beruntunglah saat itu Allah mempertemukan saya dengan sebuah lowongan kerja, yang setidaknya bisalah untuk biaya makan bulanan. Saat itu saya tinggal di sebuah Rumah Al Qur’an dengan biaya bulanan 270.000, termasuk makan dua kali sehari, murah banget kan! Akhirnya diambil lah pekerjaan itu, menjadi CS order produk pakaian anak, yang cuma bertahan selama dua bulan.

Keputusan Besar

Berbeda dengan sebelumnya, menurut saya ini adalah keputusan terbesar dalam hidup saya selama ini. Gara-gara Ramadhan, -semoga Allah memberkahi Ramadhan saya kali ini-, Ramadhan telah membawa saya pada sebuah keputusan ‘fokus padanya’. Berdasar pada rapat di dalam hati, saya harus bisa fokus di bulan tersebut, bulan di mana entah tahun depan saya bertemu lagi atau tidak, bulan di mana banyak dosa yang akan diampuni, bulan di mana banyak berkah, bulan di mana pahala berlipat ganda, bulan di mana lebih baik dari 1000 bulan, dan segala keutamaan lainnya.

Lalu, saya berpikir, saat saya harus fokus di bulan Ramadhan, saya harus keluar dari tempat di mana saya bekerja. FYI, tempat kerja saya saat itu sangaaaat padat. Kerja Senin-Sabtu pukul 9.00-16.00 (kalau orderan banyak atau hujan bisa pulang setelah isya) dan dengan jarak tempuh 30 menit menggunakan motor dengan kecepatan rata-rata 70 km/jam. Mana bisa saya fokus Ramadhan dengan kondisi tersebut? Di saat tidak Ramadhan saja targetan tilawah yang telah ditentukan belum terlunaskan, terlebih saat Ramadhan, NO!

Oke saya fiks resign! Semoga Allah memberkahi Ramadhan kali ini.

Wait, kalau resign bagaimana saya bisa makan, bayar rumah (saat itu akan memasuki pembayaran rumah awal kontrak), dan kebutuhan lainnya? Masalah pun bertambah. Tapi saya yakin, Allah telah menjamin rizqi setiap makhluk. Selama kita bergerak, Allah akan memberikan rizqi kepada kita, begitu janji Allah, seperti yang disampaikan oleh murobbi saya. But, how?!

Ting! Saya kan punya kakak di daerah Gadog (pertigaan Gadog awal jalan buka-tutup puncak). Tanpa ba-bi-bu saya langsung menghubungi kakak untuk izin pindah ke kosannya.

chat waTranslate (dengan bahasa yang diperhalus):

“Mbak, kalau saya pindah ke kosan mbak, boleh?”

“Boleh. Kapan pindah?”

“Yeayyy. Minggu depan.”

“Okay. Ngajinya sudah selesai?”

“Belum sih hahaha.” *ketawa ngenes, antara sedih dan gak rela*

Alhamdulillah, tenang Allah telah memberikan ‘tempat penampungan’ baru. Tapi, bener mau pindah?

Akhirnya, saya pun pindah tanggal 30 Mei, tepat 4 hari setelah keputusan pindah ke kosan kakak.

Masih Terngiang

Pernah merasakan tinggal di Rumah Al Qur’an 1 IPB adalah sebuah kebahagiaan, bukan kebanggaan. Apa yang bisa dibanggakan dari diri ini, belum bisa memberikan apa-apa, masih compang-camping sana-sini. Tapi saya sangat bahagia tinggal di RQ. Satu-satunya rumah (kosan) yang sudah seperti rumah sendiri, orang-orangnya seperti keluarga sendiri, saling mengingatkan, dan banyak kenangan indah lainnya di RQ.

Teringat ketika ingin memasukinya, sekitar setahun yang lalu. Mencari informasi pendaftaran, mengikuti wawancara, placement test (tilawah), dan betapa senangnya saat pengumuman diterima di RQ serta mengikuti berbagai program-programnya. Kini saya harus meninggalkannya -semoga Ramadhan kali ini membawa berkah bagi saya-. Berat melepasnya. Butuh banyak pertimbangan.

Kata mereka, ‘meninggalkan itu lebih sedih daripada ditinggalkan,’ ya begitulah rasanya.

 

 

9 Ramadhan 1437 H

Kosan lantai 2, Gadog, Ciawi, Bogor

Iklan

8 tanggapan untuk “Menapaki Anak Tangga Pertama: Sebuah Keputusan”

  1. Semoga berkah Ramadhan nyiprat ke bisnis bukunya ya kii. Perjuangan kamu sekarang insyaaAllah rasanya manis di akhir nanti. Sing penting sabar :”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s