Pengusaha Indonesia, Masih Punya Tempat?

Pagi ini, sesuai rencana di to do list saya semalam, akhirnya saya membeli koran nasional, sebut saja Republika, karena tinggal itu yang tersisa di penjual koran. Tujuan utama membeli koran sebenarnya untuk persiapan tes beasiswa. Namun, tak terduga jika akhirnya saya sangat menikmati membaca koran. Rasa yang berbeda dengan membaca melalui online, membuat mata terbelalak.

Berita pertama yang menggugah saya berjudul “Asing Bisa Kuasai Penuh 35 Bidang Usaha di Indonesia”. Wow, pikiran saya sudah kemana-mana sebelum membaca isinya, terlebih saya sangat ingin mengembangkan diri di dunia bisnis -ingin menjadi sosialpreneur (aamiin kan ya 🙂 hehe)-.

Dalam berita tersebut dijelaskan bahwa pemerintah menghapus 35 bidang usaha dari daftar negatif investasi (DNI) dalam paket kebijakan ekonomi jilid X. Artinya, ada 35 bidang usaha yang dengan mudah dikuasai asing, bahkan investasi hingga 100%. Beberapa bidang tersebut antara lain industri perfilman (bioskop), restoran, bar, kafe, bahkan cold storage atau mesin pendingin. Selain itu juga untuk bidang pengusahaan jalan tol dan bahan baku obat. Cukup mencengangkan, bukan?

Katanya, hal ini dilakukan untuk mendongkrak masuknya investasi, kebijakan terbaru ini mencegah supaya investasi di Indonesia tidak turun akibat perdagangan dunia yang turun.

Hmm… bisa juga…

Menteri Pariwisata menjelaskan, kebijakan mengundang masuk asing dalam usaha restoran adalah untuk memberi fasilitas dan kemudahan bagi sektor pariwisata di Indonesia.

Saya berpikir lagi, sebegitunya ya, pengusaha kuliner di Indonesia kalah bersaing? Hingga pemerintah pun lebih percaya usaha asing dibanding negeri sendiri. Apa gak lebih menguntungkan jika lebih mengembangkan produksi dalam negeri? Padahal ada slogan “Aku Cinta Produk Indonesia”, bukan? Atau hanya mimpi, entahlah.

Ulasan selanjutnya cukup membuat senyum sedikit. Investor asing yang modal usahanya kurang dari Rp10M wajib bermitra dengan UKM setempat. Katanya, ini untuk melindungi pelaku usaha kecil dan menengah.

Ada lagi yang membuat saya…

Pemerintah melonggarkan investasi bagi asing di industri perfilman agar bioskop-bioskop tumbuh di daerah.

Duh, mau diletakkan di mana ya gedung bioskopnya? Lahan sawah yang semakin sempit, ditambah proyek pertambahan bioskop ke daerah-daerah. Kita mau makan film kah? Para petani, gimana nasibnya? (Anak Pertanian harus peka masalah gini ya, nunjuk diri sendiri)

Dalam berita tersebut juga terdapat pendapat ahli ekonom yang membuat saya manggut-manggut.

Penghapusan 35 bidang usaha dari DNI akan meningkatkan penanaman modal asing (PMA) dalam jangka pendek. Tapi, dalam jangka panjang, KERUGIAN BESAR UNTUK INDONESIA.

Nah, ini yang saya pikirkan di awal, ternyata pikiran saya dan ahli ekonom mirip-mirip lah…

Mestinya sektor strategis lebih diistimewakan untuk pelaku ekonomi lokal. Jika keran asing semakin terbuka, pengusaha lokal akan semakin terjepit. Perusahaan asing memiliki modal jumbo yang sulit disaingi pengusaha dalam negeri.

Sebagai konklusinya, ahli ekonom menyarankan agar pemerintah membuat mekanisme baru mengenai penanaman modal asing. Salah satu caranya, keuntungan yang didapat perusahaan asing mesti diputar kembali ke Indonesia.

Hidupkan Indonesia!

Iklan

2 tanggapan untuk “Pengusaha Indonesia, Masih Punya Tempat?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s