Unik.

Kita harusnya bijak dalam menilai orang lain. Sebenarnya agak lancang jika kita menilai orang lain karena yang berhak menilai adalah Allah Yang Maha Mengetahui. Kita hanya melihat dari luar, lewat mata yang bisa saja buta karena tak ada hati.

Kadang sebagian dari kita suka men-generalisir orang, padahal setiap manusia memiliki keunikan, tak sama, punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Ada orang yang memiliki jiwa kepemimpinan dominan, unggul di akademik, seni, sosial, dll. Semuanya baik, tergantung bagaimana dia mengelola keunikannya. Baiknya, bisa bermanfaat bagi orang lain.

Orang yang terbiasa berorganisasi bisa saja menjadi pimpinan suatu perusahaan, pejabat negara, dst. Orang yang fokus di akademik bisa saja jadi ilmuwan, mereka mendapatkan nilai A, A, dan A, bisa jadi gak sengaja, karena memang mereka ahli di bidang itu. Mereka suka belajar, terus mendalami dan jadinya mendapat nilai A -tanpa mereka mengejar itu, di luar memang mereka dikaruniai ‘kelebihan otak’ untuk akademik-. Begitu juga keunikan di bidang lainnya. Hanya saja, negara kita masih menganut ‘menilai akademik’, jadinya nilai keberhasilan suatu kegiatan belajar mengajar dinilai dari akademik (meskipun sudah ada aspek lain di beberapa sekolah, tapi kalo kuliah tetap menggunakan IPK kan). Jadi seolah-olah orang-orang hanya mengutamakan akademiknya. Andai negara kita juga bisa menilai keahlian yg lainnya *entah bagaimana caranya* sehingga keahlian lainnya dapat diukur.

Akibatnya, kadang orang-orang lebih memojokkan orang yg memiliki keahlian di bidang akademik dengan anggapan ‘mereka lebih mengutamakan nilai’. Atau ini hanya unsur iri yang tak pernah didapatkan?

Nyatanya, ada beberapa teman, kakak kelas, adik kelas yang memiliki keahlian di akademik dan juga berkecimpung di dunia organisasi saat mahasiswa. Mereka tetap mendapatkan nilai A, sebagian dari mereka rela berjuang lebih untuk membahagiakan orang tuanya dengan prestasi-prestasi akademik.

Nyatanya, tanpa orang-orang lain mengetahui, mereka berjuang lebih di malam hari. Mereka pulang dari aktivitas organisasi pukul 21.00 dan lanjut mengerjakan tugas, sekedar mengulang kuliah, membaca materi dsb, di saat yg lain tertidur pulas, nonton film, buka tutup wa, dsb. Mereka tetap fokus mengikuti perkuliahan, di saat yg lain tertidur di kelas atau berimajinasi ke dunia lain.

Apakah dua usaha yang berbeda akan menghasilkan nilai yang sama?

Atau, kadang apa yang mereka usahakan adalah bentukan dari orang tuanya. Misalkan sejak kecil, orang tuanya menanamkan tentang pentingnya pendidikan, tentang baiknya nilai yang tinggi untuk masa depan. Mereka mungkin diiming-imingi mudahnya masuk universitas jika nilainya bagus, bisa jadi dokter jika jadi anak pintar. Mereka terus ‘disemangati’ untuk terus berjuang lebih demi hasil yang memuaskan, ikut les sana-sini. Mereka berjuang sejak kecil, sudah selayaknya mereka mendapatkan nilai lebih atas usaha dan kebiasaan belajarnya sejak kecil, bukan?

Di luar kelebihan itu, memang orang yang ahli di akademik memiliki beberapa kekurangan. Karena mereka fokus di akademik, bisa jadi ada masalah dalam komunikasi dan sosialnya, tidak gaul dan kekinian, sulit untuk memanaj dan planning kecuali untuk akademiknya, serta kekurangan lainnya tergantung individu. Mengikuti organisasi adalah salah satu treatment yang dapat diusahakan untuk mengatasi kekurangan mereka.

Jadi, pasti adil jika seseorang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jika seseorang memiliki kekurangan, bukan saatnya kita mencela dan memojokkan, membahas di medsos, merutuki dsb, itu bukan solusi. Lebih baik kita mendekatinya dan berkata, “Ada yang bisa saya bantu?”

‘mereka’ di sini bisa jadi saya 😀 *mungkin saya sedang men-generalisir hehe*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s