Pendidikan Agama (Islam): Penanggulangan Masalah Moral Pada Generasi Penerus Bangsa

Sebenarnya tulisan ini dibuat sebagai syarat untuk melamar sebuah pekerjaan. Hmm, daripada nganggur di laptop, saya pikir akan bermanfaat kalau dishare, meskipun masing compang-camping sana-sini.

***

Indonesia merupakan negara yang dikenal memiliki ‘budaya ketimuran’ yang memiliki harga diri yang tinggi di mata bangsa lain, begitu pula pada rakyatnya. Nilai-nilai dan norma-norma yang luhur telah diperkenalkan dan diterapkan oleh para pendahulu demi terciptanya generasi penerus yang berkualitas dan bermartabat. Namun, lambat laun nilai-nilai dan norma-norma tersebut mulai terkikis. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut, salah satunya yaitu pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa yang dengan mudah diserap oleh anak bangsa. Hal ini karena anak muda bangsa ini tidak memiliki ‘pegangan’ yang kuat dalam diri mereka sehingga tidak dapat memfilter mana yang baik dan mana yang buruk.

Sebuah ungkapan menyatakan bahwa ‘jika kamu ingin mengetahui seperti apa pemimpin suatu negeri, maka lihatlah dari rakyatnya’, karena pada dasarnya pemimpin itu cerminan dan bentukan dari rakyatnya. Telah banyak diberitakan di banyak media bahwa di tanah air yang semakin berumur ini masih saja memiliki kasus yang sejatinya tidak sesuai dengan nilai-nilai yang luhur. Sebut saja para pemimpin yang melakukan penyelewengan-penyelewengan, KKN, dan tindakan pelanggaran lainnya. Akhir-akhir ini juga masih terdengar berita-berita yang tak kalah miris di kalangan rakyat sendiri, misalnya perilaku mencontek pada siswa, kebocoran soal UN, anak yang durhaka kepada orang tua hingga terjadi pembunuhan, ibu yang membunuh anaknya sendiri, tindakan bunuh diri, hingga begal yang begitu marak diberitakan. Kondisi ekonomi yang sempit dan menghimpit bisa jadi menjadi sumber masalah tindakan penyelewengan hingga kriminalitas. Akan tetapi, apabila individu tersebut memiliki ‘pegangan’ yang kuat, maka tindakan tersebut dipastikan tidak akan terjadi meskipun dalam kondisi yang sangat terhimpit.

Agama Islam telah mengatur tata kehidupan umat manusia secara menyeluruh dimana telah memberikan cahaya atas kajahiliyahan (kebodohan) terdahulu. Kebobrokan moral penduduk Arab saat masa kejahiliyahan seperti mengubur hidup-hidup anak perempuan, perbudakan, proses pernikahan dengan melakukan ‘pergiliran’ satu perempuan dengan beberapa laki-laki dan menikahkan dengan salah satunya apabila bayi yang dilahirkan mirip dengannya, serta kerusakan-kerusakan moral lainnya. Semua itu dapat diatasi dengan hadirnya Islam.

Muhammad saw, seorang Rasulullah yang dijadikan profil role model dalam kehidupan umat Islam. Pribadi yang santun yang bahkan dijadikan orang yang paling dipercaya di kaumnya saat sebelum dinyatakan sebagai seorang nabi. Segala kebaikan ada pada Muhammad saw, serta saat beliau memimpin pemerintahan negerinya. Namun, di tanah air kini profil tersebut hanya sekedar nama bagi pemeluknya sendiri. Telah banyak masyarakat yang justru mengelu-elukan para artis, minum minuman beralkohol, perkelahian, pergaulan bebas, kasus narkoba, dan lain sebagainya yang sangat jauh dari contoh Rasulullah.

Berbagai masalah moral pada bangsa ini dapat diatasi dengan mengembalikan kondisi-kondisi dimana yang seharusnya dilakukan, yaitu memberikan pendidikan moral melalui agama sesuai perintah Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah saw. Pendidikan sesungguhnya memiliki misi yang mendasar, yaitu membentuk manusia utuh yang berkarakter dan bermoral, sesuai dengan UU No.20 Tahun 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa pendidikan (kata dasar: didik) memiliki arti memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Untuk menghasilkan output dan outcome yang baik diperlukan input yang baik pula melalui SDM guru yang memadai dari segi kualitas maupun kuantitas.

Pendidikan moral ini dapat dimasukkan ke dalam pelajaran pada usia tingkat dasar (melalui pendidikan agama yang komprehensif) dan terus dilakukan pengawasan baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan oleh berbagai pihak. Akan tetapi, keadaannya saat ini di sekolah umum (bukan basis agama Islam), mata pelajaran Pendidikan Agama Islam hanya diberikan 2-3 jam pelajaran, sedangkan sangat banyak nilai-nilai moral yang harus disampaikan, sehingga diperlukan kerja sama dari berbagai pihak.

Sebagaimana dalam pengamalan sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadikan agama sebagai solusi utama dan dijadikan landasan moral dan etika bermasyarakat. Akan tetapi, hingga saat ini alternatif ini belum dirasakan maksimal dalam pelaksanaannya sehingga masih dirasa kurang sana-sini. Sehingga diperlukan ‘turun lagi’ untuk menyelesaikan masalah pada pembangunan agama tingkat dasar.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s