Surat Untuk Indonesia: Mencari Pemimpin yang Hilang

Sepucuk surat kecil ini ditujukan untuk para pemimpin dan pimpinan, para calon pemimpin, dan para rakyat yang dipimpin oleh para pemimpin dan pimpinan.

Para pemimpin, tahukah Anda tentang semua ini? Mungkin ini hanya pandangan beberapa orang rakyat kecil, termasuk saya, yang mungkin juga belum mengerti banyak tentang Anda.

Dimulai dari hal kecil dan sederhana, saya mencoba mencari kata “pemimpin” di KBBI dan yang saya temukan di sana adalah kata amirulmukminin yang diartikan untuk sebutan atau gelar bagi pemimpin umat Islam (khalifah). Pemimpin sendiri diartikan sebagai orang yang memimpin (1) dan petunjuk; buku petunjuk (pedoman) (2). Dalam hal ini saya mencoba merangkum apa yang ada di otak ini tentang pemimpin, yaitu seseorang yang dipercaya oleh sekelompok orang untuk memimpin dan memiliki karakteristik tertentu sehingga orang-orang di sekitarnya terpengaruh untuk mengikuti orang yang dipercaya tersebut. “Dipercaya” ya, bukan “memaksakan orang lain untuk mempercayainya” sebagai pemimpin.

Pada dasarnya, setiap manusia adalah pemimpin, wahai pimpinan. Seperti sabda Rasulullah saw: Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang istri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya” (Muttafaqun’alaih).

Jika semua manusia adalah pemimpin, lantas pemimpin seperti apa yang akan kita cari, wahai rakyat? Untuk pemilik posisi tersebut, kita tidak boleh salah pilih. Ketika kita salah pilih, maka rusaklah sudah semuanya. Tak sekedar kesejahteraan materi, mungkin bahkan moral yang tak habis pikir hinggap di imajinasi otak ini. Masih adakah sosok seperti Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan pemimpin tangguh lainnya di negeri ini? Mereka adalah para pemimpin dan para ahli surga, seperti firman Allah dalam QS. At-Taubah:100.

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang petama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dengan mereka dan mereka ridho kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”

Lantas bagaimana dengan kondisi saat ini, wahai para pemimpin dan pimpinan, calon pemimpin, dan rakyat? Sejauh yang saya lihat, masih tersiar kabar tentang korupsi di sana-sini, “bagi-bagi kue”, gambar para anggota dewan yang terpotret tidur dengan nyamannya saat sidang, target yang hanya janji, tuntutan kenaikan gaji di atas kemiskinan rakyat, masih saja terekam rakyat dengan status gizi rendah, bahkan masalah moral yang tak kunjung membaik. Lihat saja saat berantem, lempar kursi saat rapat, saling teriak-teriak, mungkin juga lempar palu sidang. Apakah itu yang dinamakan pemimpin? Jika benar, berarti yang ada di otak saya selama ini adalah salah, atau sekedar imajinasi dan mimpi belaka. Apakah benar pemimpin di negeri ini benar-benar hilang?

Wahai para pemimpin, pimpinan dan calon pemimpin, jika boleh meminjam kata salah seorang tokoh masyarakat, yang dikatakan pemimpin adalah orang yang mampu memberikan tauladan bagi rakyat yang dipimpinnya. Sebut saja Soekarno, Hatta, HA. Salim yang biografinya tersebar dan mendapat sanjungan oleh rakyatnya, di luar kekurangannya sebagai manusia biasa. Mereka adalah tokoh politik dan mereka dijadikan contoh. Dijadikan contoh! Ini yang perlu ditekankan sebagai seorang pemimpin. Integritasnilai, danperjuangan, itulah yang mereka bawa sebagai seorang pemimpin. Dan contoh ideal kita adalah Rasulullah saw, pemimpin terbaik dan diakui sebagai orang paling berpengaruh di dunia. Sepeninggalan Rasulullah saw dan para sahabat, siapa lagi yang akan melanjutkan estafet perjuangan umat manusia sebagai khalifah? Apakah benar, pemimpin di negeri ini benar-benar hilang?

Jawabannya ada pada diri kita sendiri wahai para pemimpin dan pimpinan, calon pemimpin, dan rakyat. Saat kita yakin bahwa pemimpin itu benar-benar hilang, maka ia akan lenyap. Namun, ketika kita yakin bahwa ia ada, maka ia masih hidup dan sedang dipersiapkan oleh Allah untuk muncul pada kondisi yang paling ideal, seperti matahari yang terbit saat pagi dan memberi energi bagi kehidupan bumi. Dengan begitu dapat dikatakan bahwa minimal pemimpin itu adalah diri kita sendiri, dengan begitu dapat dikatakan masih ada pemimpin di negeri ini.

Memang tidak mudah menjadi seorang pemimpin. Di benak saya, pemimpin adalah seorang pahlawan. Soedirman, seorang panglima perang rela berkorban meninggalkan kenyamanan dunia demi kemerdekaan dan harga diri bangsa ini. Beliau tidak perlu ditakuti prajuritnya dan memerintahkannya dengan suara lantang. Semua menaruh hormat dan rela berkorban untuk pemimpinnya. Jenderal Soedirman mengajarkan kepada bangsa ini bahwa seorang pemimpin adalah sosok yang hatinya bersih dan rela berkorban, meskipun terhalang oleh fisik yang lemah.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, pemimpin adalah pahlawan. Para pahlawan adalah orang-orang besar. Mereka mampu menyelesaikan pekerjaan besar dalam sejarah melalui naluri kepahlawanannya. Mereka bukanlah kiriman gratis yang turun dari langit. Sejarah kepahlawanan mulai terukir ketika mereka mampu menjawab tantangan-tantangan besar. Dari hasil inilah lahir pekerjaan-pekerjaan besar. Teman dekat sosok pemimpin sekaligus pahlawan adalah keberaniankesabaranpengorbanankejujuranmedan kompetisi,optimismepekerjaan besar dan kecilkeunikankegagalanmusibahkesalahan,kekalahanimajinasiapresiasi, dan segala hal yang mengokohkannya menjadi seorang pemimpin sekaligus pahlawan.

 

Para pemimpin dan pimpinan, layakkah Anda menjadi pemimpin?

Para calon pemimpin, apa sajakah tujuan dan upaya yang Anda persiapkan untuk menjadi seorang pemimpin?

Para rakyat, sudah cerdaskah kita dalam memilih pemimpin?

KAMU, siapkah menjadi seorang pemimpin sekaligus pahlawan?

 

“Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar” (Sayyid Quthb).

23 November 2013, 23:30 WIB

Di kesunyian malam, sudut Kabupaten Bogor.

Seorang anak kecil yang mencari pemimpin dan pahlawan untuk bangsanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s