Ibu…

ibu

Ibu.. mendengar kata-katanya saja sudah sangat menentramkan, meskipun dalam kenyataannya kadang kita merasa begitu terganggu, tapi percayalah itu adalah bentuk kasih sayangnya kepada buah hati yang paling dicintainya..

Ibu.. begitu hangat ketika berada di pelukannya, genggaman tangannya begitu menguatkan..

Begitu banyak yang tak terungkapkan untuknya, begitu banyak.. tapi yang aku yakini, dan yang aku tau pasti, dia sangat mencintaiku, sangat banyak pengorbanan meskipun kadang tak aku mengerti..

Jadi teringat tentang sebuah kalimat yang sudah tak asing lagi di telinga ini, bahkan mungkin sudah masuk ke dalam mata pelajaran ketika SD, SMP, SMA, kuliah, atau bisa dibilang sepanjang masa, “surga di bawah telapak kaki ibu”.

Hahaaa.. kalo mengingat waktu kecil, jadi ketawa sendiri. “Surga di bawah telapak kaki ibu”.. mentah-mentah aku cerna kalimat itu.. yaa, mungkin karena aku masih kecil. Dulu aku berpikir, “Berarti surga itu kecil dong? kan kaki ibu kecil, bagaimana caranya bisa masuk ke dalamnya?” Polos banget yaa.. ^_^

Hmm.. hari ibu sebentar lagi sudah akan berakhir, tapi cinta ibu ke kita tidak akan berakhir, justru akan terus bertambah. Hari ibu bukanlah hanya pada 22 Desember saja, tapi setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik. Aku pernah dengar suatu cerita dari seorang guru (tapi lupa pas guru SD, SMP, atau SMA), sebernya hari ibu itu diperingati oleh orang-orang luar negeri karena ibu-ibu di sana sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga dibutuhkan hari di mana ibu dan anak dapat berkumpul. Jadinya bisa dibilang kalau anak-anaknya kurang mendapatkan kasih sayang ibunya. Alhamdulillah aku tidak seperti itu dan semoga yang membaca juga merasakan hal yang sama, cukup bahkan lebih mendapatkan kasih sayang seorang ibu.

Tentang Ibu..

Abu Hurairah radhiallahu ‘anh berkata:

Seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam dan bertanya:

“Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku layani dengan sebaik-baiknya?”

“Ibu kamu.”

“Kemudian siapa?”

“Ibu kamu.”

“Kemudian siapa?”

“Ibu kamu.”

“Kemudian siapa?”

“Ayah kamu.”

(HR Bukhari)

Subhanallah, begitu mulia posisi menjadi seorang ibu. Sampai-sampai disebutkan sebanyak 3 kali sebagai orang yang harus kita perlakukan dengan sebaik mungkin. Jelas saja, jika kita flash back sebentar, ketika itu ibu mual-mual dan muntah. Ketika diperiksakan atau tes kehamilan, betapa bahagianya dia. Imajinasinya begitu jauh menerawang, membayangkan kehadiran kita di tengah-tengah keluarga kecil mereka. Tentang baju kita, makanan kita, sekolah kita, masa depan kita. Semua terbayang, terterawang.

Mual dan muntah adalah hal yang biasa, dia akan terus berusaha memakan makanan yang bergizi untuk calon arsiteknya. Semakin hari, bertambah minggu dan bulan, janin di perutnya akan terus bertambah besar. Begitu berat dibawanya ke mana-mana. Selama 9 bulan kita ada di dalamnya, masih ingatkah? Dan sebuah ikatan pun terjalin di dalamnya.

Tidak hanya sampai di situ. Perjalanan perjuangan ini justru akan dimulai saat kita mulai meneriakkan tangis pertama kalinya. Begitu senangnya mendengar tangisan itu, rasa sakit setelah melahirkan pun sirna. Yang ada adalah tangis yang mengharu-biru.

Inisiasi dini, sebuah cara di mana seorang bayi akan menemukan ASI dengan usahanya sendiri (dengan menempatkan bayi ke perut ibunya, gak mungkin kan bayi langsung lari nyari ASI? hehe). Inilah asupan pertama yang bergitu berharga. Kolostrum ASI, yang tidak didapatkan di susu formula semahal berapa pun. Asupan ini yang telah mengantarkan kita menjadi anak yang cerdas dan sehat. Asupan tanpa mengakibatkan alergi dan cocok untuk perut kita yang masih sangat lemah saat itu. Dengan pemberian ASI, kita bisa merasakan kehangatannya, kasih sayangnya sehingga ikatan ini semakin kuat.

Perjuangan pun masih terus berlanjut. Dengan sabar dan sayang, Ibu terus dan tetap merawat kita. Sampai suatu saat aku tanya kepada ibuku, “Bu, kan aku nakal, kok Ibu masih mau merawat aku sih? Bu, kalo aku hitam ibu masih menganggapku sebagai anak ibu?” Hahaa.. sekilas terkesan konyol pertanyaan itu yaa.. sekarang pun aku sudah sadar jawabannya saat itu, yang saat itu tidak aku mengerti dan sekarang pun aku sudah lupa apa jawabannya.

Perjuangannya pun akan terus berlanjut. Hingga suatu saat kita sudah mulai bisa membangkang kehendaknya. Bayangkan, betapa sakit hatinya atas apa yang dia lakukan kepada kita selama ini. Astaghfirullaah..

Hingga suatu hari perpisahan itu benar-benar terjadi. Suka dan duka menjadi satu. Saat kita mulai memutuskan untuk membangun sebuah keluarga kecil. Ada sedikit kekhawatiran di sana, apakah nantinya anakku, buah hatiku akan dijaga baik oleh lelaki itu atau apakah anakku nanti menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya? Apakah aku masih bisa bertemu dengannya sebebas dulu saat aku menimangnya? Apakah aku bisa menjadi pelipur laranya ketika dia sedih seperti saat aku memeluknya ketika dia terjatuh dan terluka? Apakaaahh…

Ketika kita telah mencapai titik itu, apa yang sudah kita berikan untuk Ibu? Hah, kita gak akan bisa menggantinya, meskipun dengan dunia dan seisinya. Keberadannya tidak ada duanya. Jadi teringat sebuah percakapan dengan ibuku,

“Bu, apa yang ibu minta saat aku besar nanti?”

“Jadilah orang tua yang baik, ibu tidak akan meminta apa-apa. Ibu cuma pengen kamu menjadi orang tua yang baik buat anak-anakmu nanti, yaa.. kalo bisa lebih baik dari ibu.”

speechless 

Itulah Ibu, seperti lagu yang selalu didengungkan saat TK, “kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa”.. Cinta yang begitu sederhana.. Sesungguhnya perjuangannya tidak sesederhana tulisan ini dan mungkin saat tulisan ini diposting, Hari Ibu telah berakhir. Tapi sesungguhnya Hari Ibu adalah setiap hari, setiap menit, dan setiap detik.

Sayangilah Ibu kita. Selamat Hari Ibu. Big Hug for Our Mom!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s