#1 Karena Kaulah Penerusku

penerus bangsa

ini cerpen saat masih TPB, juara 1 lhoo.. meskipun masih agak alay haha, but it’s funny 🙂

selamat membaca 😀

“… Proklamasi itu… Perjuangan para pahlawan bangsa… dan kita harus bisa memanfaatkan kemerdekaan ini… bla-bla-bla…”

“Ngomong apaan sih tu dosen? Kagak ngerti gue, gak penting banget, dulu ya dulu, sekarang ya sekarang. Knapa kudu diungkit-ingkit?”

Whatever-lah.”

“Gue juga males, tau gini gue duduk paling belakang.”

“Ssssttt… Woey!!! Yang depan diem dong, gak denger ni yang belakang!!”

Bla-bla-bla… celoteh dosen dan para mahasiswa bikin suasana ruang kelas jadi gak kondusif  buat kegiatan belajar mengajar. Tapi parahnya, ada yang memanfaatkan kondisi ini untuk sesuatu yang “kondusif” untuknya. Yap, benar, ada yang ngorok!

“Bibeh-bibeh-bibeh oouh…” (by Justin Bieber)

“Hape siapa tuh bunyi?”

“Tau tuh, keras banget, kok gak di-silent sih?”

“Bibeh-bibeh-bibeh oouh…”

“Dith, Dith, bangun dong, hapemu muni,eh bunyi tuh!” kata si Jawa.

“Dith, Dith, bangun atuh, dosen datang!”

Tak ada tanggapan dari yang empunya hape.

“Ya, yang handphone-nya berbunyi, silakan meninggalkan kelas, SEKARANG!!!” kata dosen geram yang telah melalui batas kesabaran puncak. Gak biasanya kayak gini, biasanya…

“CEPAAATT!!”

“Hoooaahhmmm…,” sambil menggeliat, ”hoey…siapa sih triak-triak? Gak tau apa ada orang lagi tidur? Hooahh…”

“Bibeh-bibeh-bibeh oouh…”

“Oh, hape gue bunyi… Yaaahh, udah dimatiin,” katanya baru nyadar kalo hapenya berdering.

“Oh, jadi kamu??!” kata dosen yang semakin memuncak.

“Iya, Pak. Saya? Ada apa, Pak?” kata Ardith dengan wajah tanpa dosa.

“Keluar dari kelas saya, SEKARANG!!”

“Kenapa sa….”

“CEPAAAAATTTT!!!”

“I i i iya Pak, iya Pak, maaf ya Pak,” kata Ardith sambil menuju luar kelas meskipun sebenarnya masih linglung.

Suasana kelas langsung berubah jadi hening dan mencekam. Langit berubah jadi hitam, gelap, petir menyambar, dunia serasa mau kiamat buat mahasiswa kelas itu, semuanya tegang. Mata dosen serasa mau copot!

“Jangan coba-coba ya kalian di kelas saya!” ancamnya, ”ya, kita lanjutkan…bla-bla-bla…”

Sementara itu, di toilet pria di kampus gedung A lantai 2…

“Hooahhmm, ngantuk banget gue,” kata Ardith sambil cuci muka, ”oh ya, tadi siapa yang nelpon…”

Missed Calls

ayyank kuu

“Oh, si ay…”

“Bibeh-bibeh-bibeh oouh…”, hape berdering lagi.

“Hallo, Ay!! Ya, baik dong. Di toilet. Ya, ya, kapan maen ke apartemenku, Ay? Mau kujemput di bandara? Kapan berangkat dari Jogja? Besok? Oke, oke, oke, gampang lah, Ay. Oke, see ya…”

“Hooey, Dith!!”

“Eh, loe Don, ngagetin aja. Tadi gimana dosen? Masih sewot?”

“Iyalah, gara-gara loe tuh, bikin kacau! Kerjaan loe tidur mulu, sekali lagi dapet C, loe DO tau!!”

“Hahaha, iye, iye, gue tau, bawel loe ah. Emang kalo gue DO knapa? Gue pengen di-DO, bosen kuliah.”

“Gile loe!”

“Duluan ya, mau cabut, lanjutin tidur di apartemen,” katanya dengan mata yang kayak lampu 5 watt mau mati.

“Gak pa-pa loe? Muka kusut gitu, gue anterin deh, pengen nyobain Honda Jazz loe…” kata Doni sambil cengar-cengir.

“Dasar loe! Buruan! Ngantuk nih!!” kata Ardith gak sabaran banget. Saking gak sabarannya, dia jalan cepat ninggalin Doni.

“Eh, eh, iye…tungguin! Ntar gue minta makan ya…”

“Arrghh… CEPET!!”

“Iiiiiyyyeeee……”

“Bibeh-bibeh-bibeh oouh…”

“Hallo!” sapa Ardith sambil ngantuk untuk orang di seberang sana. Dasar anak ini tukang tidur!

“Assalamu’alaikum, Ardith, baru bangun tidur ya?” tebak orang di seberang.

“Eh, Mama, ya Ma, wa’alaikumsalam. Ada apa, Ma?” kata Ardith, baru sadar kalo hampir sebulan gak nelpon ke rumahnya, parah!!

“Gak pa-pa dong, gak boleh ni Mama nelpon? Eee…Ardith juga gak nelpon-nelpon, udah hampir sebulan gak ada kabar.”

“I i i iya, Ma, maaf Ma, di kampus sibuk, Ma,” jawabnya ngeles.

“Oh ya, bagaimana nilai akademikmu? Terakhir Mama tau, nilai kamu udah dua kali C, gimana tu? Belajar yang rajin lho…” kata Mama Ardith udah mulai ceramah.

“Iya dong, Ma. Ardith kan emang anak yang rajin, tenang aja Ma… Oh ya, Papa mana, Ma?” mulai mengalihkan pembicaraan.

“Ini, Papa lagi ada dinas di Kalimantan sebulan. Jadi, Mama di rumah bertiga sama Dimas dan Bi Inah.”

“Ooo, gitu…” jawabnya dengan gaya sok perhatian, padahal mah dia…

“Ya sudah ya, ni Mama lagi mau nyiapin buat makan malam, jangan lupa sholatnya dijaga!”

“I i i iya, Ma,” jawabnya sambil coba nginget kapan terakhir sholatnya gak bolong-bolong, paraaaah!

“Wassalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumsalam…”

Tut…tut…tut…tuuutt…

“Mampus! Gue kan sekali lagi dapet C bisa DO, aaduuuuhh….” batinnya.

Ardith pun berdiri dan berjalan sempoyongan menuju ke meja belajarnya yang super duper berantakan. Gak sengaja dia liat kalender birunya yang ada gambar mobil balap yang nangkring gak karuan di pojok meja belajarnya.

“Sekarang tanggal 14, berarti besoooookk…….” katanya sempet berhenti setelah liat lingkar merah di kalender tanggal 15 Agustus 2010.

UJIAN SEJARAH

MATERI BAB 1-5

“Oh my God!!!”

Ya…. begitulah kehidupan gak jelas salah seorang anak bangsa di era teknologi serba modern sekarang ini. Ardith, begitulah ia dipanggil. Mahasiswa semester dua dari ibu kota ini hidupnya tergantung satu nilai mata kuliah lagi. Sekali lagi C, DO, parah! Emang sih, dia anak pertama dari dua bersaudara, dan bisa dikatakan suatu saat nanti dia adalah tulang punggung keluarganya, tapi dia terlalu dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas yang ia dapat dari orangtuanya. Teman-teman kampusnya mengenalnya karena kekayaannya, tapi gak sedikit juga yang mengenalnya karena MALAS!

Malamnya…

“Bibeh-bibeh-bibeh oouh…”

Calling…

Doni

“Hallo!”

“Hey, bro! Udah blajar buat besok?”

“Belum,” jawabnya ketus dan super singkat.

“Knape loe? Putus?”

“Nggak lah… gue bingung, gak tau kudu ngapain, kalo sekali lagi dapet C gue bakalan DO.”

“Hahaha… iyalah, anak sekampus juga udah tau,” sindir Doni.

“Trus gue harus gimana?” tanyanya bimbang.

“Belajar, bro! Inget, C, DO!” katanya tegas.

“Iye, iye, bawel loe…!!” jawabnya mulai kesel.

“Hahaha, ya udah, met blajar ya…salam sayang dariku untukmu!!” katanya sambil cekikian.

“Iiiihh… jijik banget loe!!!”

Tut…tut…tut…tuuutt…

Bingung, bingung, bingung, dan bingung. Akhirnya, tergugahlah tangannya buat ngambil diktat sejarah di tumpukan buku-buku gak jelas. Kucel banget tuh buku, bukan karena sering dibaca, tapi karena gak terawat.

Dibukanya dengan males-malesan halaman pertama….

BAB I ZAMAN PENJAJAHAN BELANDA

Akhirnya, dengan memaksakan diri, dibacalah buku kucel itu. Huruf demi huruf terangkai, kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf satu, paragraf dua, paragraf tiga….

……………………..ZzZzZzZz…………………….. (#baca: tidur)

“TIARAAAPP!!!!!”

DUAARRR!!! BUM!! BUM!!

“Awas!!! Granat di depan!!!!”

“Bersiaga!! Lepaskan panah!!!”

“Teruuus!!! Lempar dengan batu!!”

DUUARR!!

“AARRGHHH!!!”

“ARDJOOOO….!!!”

“Ardjooo!!”

“Semuanya MUNDUUURR!!!”

Langit cerah negeri subur tampak gelap, hitam, kelam saat pemuda terbaik bangsa menumpahkan darah harumnya. Darah yang terus mewangi sepanjang masa selama negeri tetap ada dan ketika tak kan pernah ada yang melupakannya.

“Hei, kamu!! Tak tau apa yang kami perbuat? Kenapa berdiam diri kau?” kata seseorang yang tampak sedih, kusam, lusuh, namun dari semburat wajahnya tercermin ketegasan yang belum pernah terlihat orang seperti ini sebelumnya.

“Hm…hmm…hmmm..” jawabnya dengan takut.

“Hei, siapa kau? Penyusup?” tanya orang lain dari kelompok itu.

“Bu..bu..bukan, bukan. Gue…eh, saya bukan penyusup. Saya….”

“Heh!! Jangan bohong kau!! Siapa kau ini sebenarnya? Kau pasti mata-mata mereka, kan?”

“Hei…ada apa dengan kalian? Sabar dulu, jangan sembarangan menuduh orang. Kita sama-sama introgasi orang ini. Tapi menurut hemat saya, orang ini berbeda dari mereka, jadi tidak mungkin jika termasuk golongan mereka. Siapa kamu sebenarnya?”

“Hmm…hmm,” jawabnya dengan takut dan sangat bingung.

“Ayo jawablah! Jangan takut, saya akan menjamin keselamatanmu jika kau memang orang benar.”

“Nama saya Ardith, saya berasal dari Jakarta, dan saya tidak tahu mengapa saya tiba-tiba berada di sini.”

“Jakarta? Nama apa itu?” tanya salah seorang dari mereka.

“Jakarta adalah nama kota,” jawabnya dengan sedikit mengingat tentang pelajaran sejarah, “Batavia, ya, dulu bernama Batavia.”

“Ya, saya tahu tentang Batavia, saya juga pernah ke sana. Tapi, tunggu dulu. Apa maksudnya dulu bernama Batavia?”

“Iya, sekarang nama Batavia berganti menjadi Jakarta.”

“Sekarang? Tidak mungkin!!”

“Ha? Hmm, kalau boleh saya tahu, sekarang tanggal berapa ya?” tanyanya terkejut.

“Tanggal empat belas, bulan delapan, tahun seribu sembilan ratus empat puluh empat.”

“HAA? Tidak mungkin! Tidak mungkin! Mana mungkin waktu bisa berjalan mundur? Dan pasti tidak mungkin ada mesin waktu di dunia ini.”

“Waktu berjalan mundur? Memangnya kau dari zaman apa?

“Saya dari zaman setelah Indonesia merdeka, tepatnya tahun 2010.”

“Apakah benar di zaman itu Indonesia telah merdeka?”

“Iya, benar. Indonesia secara resmi merdeka tanggal 17 Agustus 1945.”

“Alhamdulillah…” syukur mereka hampir bersamaan.

“Tapi kita jangan lengah, jangan bersenang-senang dulu, pada dasarnya kemerdekaan juga belum kita raih. Kekerasan, penindasan, kelaparan ada di mana-mana, dan Nusantara masih membutuhkan pemuda-pemuda seperti kita ini yang akan berjuang untuk mengusir para penjajah.”

“Ya, SETUJU!!!” jawab mereka kompak.

“Mari kita kembali ke persembunyian kita, karena hari sudah mulai gelap, dan besok masih ada serangan lanjutan lagi. Hati-hati, kita awasi wilayah di sekitar kita, jangan sampai ada mata-mata yang mengikuti kita.”

Mereka pun berjalan menyusuri hutan belantara yang masih asri, yang belum pernah dilihat oleh Ardith sebelumnya. Dia pun tidak terlalu banyak berbicara selama di perjalanan dengan kondisi yang seperti ini, meskipun di dalam hatinya masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ingin dilontarkan.

Tibalah mereka pada sebuah batu besar. Ternyata batu itu adalah sebuah pintu yang menunjuknya ke sebuah persembunyian yang telah terancang rapi yang berada di bawah tanah. Sebelum masuk, mereka memastikan bahwa daerah sekitar mereka aman.

Dinginnya malam menusuk tulang, gelapnya bawah tanah dan udara pengap adalah hal biasa. Beberapa kayu bakar dan bara api seakan sangat berharga malam itu.

Di antara mereka juga terlihat beberapa wanita dan anak-anak yang ikut berlindung di antara dinding tanah yang dingin. Yang membuat terkesan, mereka, para anak-anak telah fasih membaca Al-Qur’an, dan sholatnya pun sudah bagus untuk seukuran anak sekecil itu.

“Gue malu,” batin Ardith.

“Jadi, zaman setelah merdeka itu seperti apa?” tanya seorang ibu yang membuyarkan lamunan Ardith.

“Zaman di mana segala sesuatu telah bebas, tanpa kekang, teratur, di mana pemerintahan tersusun rapi…” jawabnya yang kemudian diam dan merenung, “di mana rakyatnya hidup makmur, sejahtera, dan tak ada kata lapar,” dia terdiam lagi, “zaman di mana tidak ada kekerasan,” lanjutnya dengan sedikit memejamkan mata untuk sekedar meresapinya, “dan di mana anak-anak dan pemuda dengan bebas belajar untuk cita-cita luhur mereka.”

“Benarkah begitu?”

“Ya, benar,” jawabnya dengan rasa bersalah yang amat sangat.

Tak tega rasanya tuk pupuskan harapan mereka. Ketika mereka tau yang sebenarnya terjadi. Sesuatu yang bisa membuatnya sedih ketika pengorbanan yang tak sebanding dengan apa yang dilakukan orang-orang sekarang, termasuk aku. Rasanya sungguh seperti suatu pengkhianatan atas jasa-jasa mereka. Maaf.

“…cahaya bulan menusukku, dengan ribuan pertanyaan, yang tak kan pernah ku tau, di mana jawaban itu, bagai letusan berapi, bangunkanku dari mimpi, sudah waktunya berdiri, mencari jawaban kegelisahan hati…”(ost. Gie)

Di pagi buta…

“Ssssttt…. bangun semuanya!” kata seorang dengan berbisik, “persembunyian kita telah diketahui musuh, dan kita telah terkepung.”

Sontak semua orang yang ada di bawah tanah bangun, termasuk anak-anak.

“Harto, lancarkan rencana kedua! Selamatkan wanita dan anak-anak ke tempat persembunyian kedua, perintahkan prajuritmu untuk berjaga-jaga di setiap titik.”

“Siap, Letnan!”

“Letnan?” batin Ardith.

“Semuanya segera pergi, saya akan berjaga-jaga di sini untuk memastikan keselamatan kalian.”

“Siap!”

“Hei, kau anak muda! Kau bersamaku di sini!”

“Sa…sa…sa…”

“Ya, kau! Mengapa? Kau takut?”

Ardith terdiam.

“Ikut mereka sajalah kau, kalau kau takut!” usir Letnan.

“Tidak, saya tidak takut, saya akan bersama Letnan di sini,” jawabnya tegas.

“Bagus.”

Suasana bawah tanah menjadi sepi. Panas dingin hati menggigil di diri Ardith. Belum pernah dia merasakan di kesunyian seperti ini.

“Oh, jadi ini cermin anak muda masa depan? Tak kusangka. Dan aku yakin apa yang kau bicarakan samalam adalah kosong!”

Rasanya ada sesuatu yang menampar diri Ardith.

“Apa kau tak takut Letnan?” tanya Ardith berusaha memberanikan diri.

“Takut? Takut apa? Takut mati? Atau takut kalah?”

Ardith pun terdiam, malu rasanya. Malu telah menjadi penerusnya.

“Mati. Pada dasarnya semua orang pasti mati, yang membedakan hanyalah waktu dan caranya. Kita semua mengantri mati di dunia ini, termasuk penjajah biadab itu. Jadi, apa kau masih merasa takut?”

“Tidak!” jawab Ardith yakin.

“Sekarang apa yang masih kau takutkan? Takut kalah? Sebelum kau berpikir kalah, berpikirlah menang. Pada hakekatnya, kemenangan itu adalah sesuatu yang lebih baik dari kemarin. Setiap orang adalah pemenang, hanya saja mereka tidak menyadari jika mereka adalah pemenang,” kata Letnan tegas.

DUUAR!!

“Pribumi, KELUAR!!” terdengar teriakan para pengkhianat bangsa.

“Kita sembunyi,” kata Letnan.

“Sembunyi? Bukankah kita harus berani melawan mereka?”

“Ikuti saja komando dari ku!”

Terdengar suara mereka semakin dekat. Hentakan kaki selangkah demi selangkah, suara tembakan, dentuman bom terasa dekat di atas kepala. Ardith dan Letnan berada di sudut gelap persembunyian di balik batu besar yang telah disiapkan rapi di goa buatan yang telah mereka buat.

“Hei…siapa yang di dalam? Keluarlah kalian! Aku tau kalian masih di sini,” terdengar teriakan mereka yang masuk ke tempat persembunyian.

Terlihat oleh Ardith sebagian dari mereka adalah pribumi dan dua diantaranya adalah orang asing yang bisa disimpulkan, mereka adalah koloni penjajah.

Tak sengaja Ardith menginjak sesuatu yang terasa tajam di kakinya.

“AAAUU!!”

“Siapa itu?” teriak salah seorang dari mereka.

“AKU!!” kata Letnan.

“Bukan! Itu saya!” sahut Ardith.

Tapi, anehnya mereka tak menganggap keberadaan Ardith.

“Kau sendiri?” introgasi mereka.

“Ya, seperti yang kalian lihat. Aku sendiri!” jawabnya tegas.

“Di mana kawananmu?”

“Aku tak berkawan, aku sendiri.”

“Pendusta!!” teriak mereka.

DORRR!! DOR! DOR! Terdengar suara tembakan menghujam ke tubuh Letnan.

“Aaarrgh!!” Letnan pun tumbang.

“LETNAAAN!!”

“Aku tak apa,” katanya sambil tersenyum meskipun sebenarnya terlihat jelas menahan rasa sakit tembakan timah panas di dada, punggung, dan kakinya.

Hati terasa sesak melihat semua ini. Tak terasa jatuh air hangat dan suci dari mata hati yang terdalam. Ardith menangis.

“Kenapa kau menangis? Tak tau malu kau kepada ku!” gurau Letnan.

“Let… Let… Letnaaaan!”

“Hanya satu pesanku. Ingatlah bahwa kau adalah pemenang. Kutantang kau, jadilah pemenang selanjutnya. Teruskan perjuanganku. Teruskan perjuangan kami. Jangan sia-siakan. Majukan bangsa ini, selamatkan dari tangan beringas mereka. Berjuanglah di masa depan. Jadilah pemenang, karena kaulah penerusku…………”

“LETNAAAANN!!!”

“HAAH?? Ardith dapet nilai A? Impossible!”

“Iya, bener, liat aja di mading!” tantang salah seorang dari gerombolan mahasiswa.

“Iya, gile bener dia. Katanya semalem dia juga baru mutusin pacarnya, alasannya pengen serius kuliah,” celoteh Doni.

“Iya, dia juga tanya-tanya ke gue gimana caranya masuk BEM,” pengakuan mahasiswa yang aktif organisasi.

“Sama, semalam dia juga tanya ke aku tentang cara belajar dan manajemen waktu yang baik,” kata mahasiswa yang menonjol di kelasnya.

“Aneh!!” kata mereka hampir bersamaan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s